Motif Sejarah Kendal

Batik Parang Kendal 1

Parang merupakan salah satu jenis benda pusaka yang harus dilestarikan. Untuk menghargai dan merawat benda pusaka tersebut, masyarakat Kabupaten Kendal mempunyai kebiasaan yang telah membudaya yaitu melakukan pencucian benda pusaka pada saat menjelang tahun baru islam 1 Muharram. Kegiatan mencuci benda pusaka dilaksanakan setiap satu tahun sekali oleh masyarakat daerah Kabupaten Kendal. Hal tersebut menginspirasi Widji Astutik dalam menciptakan motif parang Kendal 1 sebagai salah satu motif batiknya

About Images

Motif Parang Kendal 2

Motif Parang Kendal 2 ini memiliki arti sama seperti motif Parang Kendal yang pertama, namun perbedaan motif parang Kendal dua dengan motif parang Kendal yang pertama adalah motif yang masih menggunakan logo Kendal yang lama pada bagian tumpal kain batik tersebut.

About Images

Motif Kendil/ Gentong

Motif Kendil/ Gentong dibuat berdasarkan sejarah Kabupaten Kendal. Kendil merupakan pusaka yang dimiliki oleh Tumenggung Singowijoyo, disebut juga Kyai Kendil Wesi seorang Bupati Kendal meninggal ketika terjadi geger Pakunegaran di Gunung Tidar Magelang. Ketika Tumenggung Singowijoyo meninggal, kedudukannya digantikan oleh kemenakannya yang bergelar Tumenggung Mertowijoyo dan sepeninggal Tumenggung Mertowijoyo digantikan oleh adiknya yang juga menggunakan nama kehormatan yang sama yaitu Tumenggung Mertowijoyo. Beliau meninggal di Loji Semarang. Putranya mempunyai nama sama, yaitu Mertowijoyo atau yang lebih dikenal dengan Mertowijoyo I meninggal digantikan oleh Mertowijoyo II, setelah meninggal digantikan oleh Tumenggung Mertowijoyo III, lalu jenazahnya dimakamkan di Desa Sukolilan, Kecamatan Patebon,Kabupaten Kendal bersama pusaka warisan berupa Kendil Wesi peninggalan dari ayahandanya.

About Images

Motif Kereta Kencana Bahurekso

Motif ini memiliki makna berdasarkan Sejarah Kabupaten Kendal yaitu Raden Tumenggung Bahurekso merupakan Adipati pertama di Kabupaten Kendal dan juga seorang panglima Perang Mataram di bawah kekuasaan Sultan Agung. Pelantikannya pada tanggal 28 Juli 1605 menjadi dasar hari jadi Kabupaten Kendal, pada masa kekuasaan Tumenggung Bahurekso Kereta Kencana digunakan sebagai alat transportasinya.

About Images

Motif Keris

Motif Keris terinspirasi dari salah satu budaya masyarakat Kabupaten Kendal pada saat memperingati tahun baru islam 1 Muharram. Tradisi budaya tersebut merupakan kebiasaan dari masyarakat yang identik dengan kegiatan mencuci benda pusaka termasuk keris. Hal tersebut dilakukan untuk menghargai dan merawat peninggalan sejarah berupa benda pusaka.

About Images

Motif Daun Kendal

Motif ini berasal dari Pohon Kendal, pohon inilah nama Kabupaten Kendal diciptakan oleh Sunan Katong, sehingga memiliki hubungan erat dengan sejarah Kabupaten Kendal. Selain itu, Pohon Kendal sebagai tempat sejarah untuk persembunyian Pangeran Pakuwojo saat Sunan Katong mengejarnya. Pangeran Pakuwojo adalah seorang tokoh agama Hindu/Budha, bahkan disebut sebagai mantan petinggi Kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit untuk wilayah Kabupaten Kendal. Untuk mengislamkan atau menyerukan kepada Pakuwojo supaya memeluk agam Islam, Tidaklah mudah sebagaimana mengislamkan masyarakat biasa lainnya. Kesepakatan atau persyaratan dibuat dengan penuh kesadaran dalam kapasitas sebagai seorang ksatria pilih tanding. “Bila Sunan Katong sanggup mengalahkannya, maka ia mau memeluk agama Islam dan menjadi murid Sunan Katong”, demikian sumpah Pakuwojo di hadapan Sunan Katong. Didampingi dua sahabatnya dan satu saudaranya, pertarungan antar keduanya berlangsung seru. Selain adu fisik, mereka pun adu kekuatan batin Kejar mengejar, baik di darat maupun di air hingga berlangsung lama dan Pakuwojo tidak pernah menang. Bahkan ia berkeinginan untuk lari dan bersembunyi. Kebetulan sekali ada sebuah pohon besar yang berlubang oleh Pakuwojo digunakan sebagai tempat bersembunyi dengan harapan Sunan Katong tidak mengetahuinya. Namun berkat ilmu yang dimiliki, Sunan Katong berhasil menemukan Pakuwojo, dan menyerahlah Pakuwojo. Sebagaimana janjinya, kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Oleh Sunan Katong, pohon yang dijadikan tempat persembunyian Pakuwojo diberi nama Pohon Kendal yang artinya penerang. Di tempat itulah Pakuwojo terbuka hati dan pikirannya menjadi terang dan masuk Islam. Sungai yang dijadikan tempat pertarungan kedua tokoh itu diberi nama sungai Kendal, yaitu sungai yang membelah kota Kendal, tepatnya di depan Masjid Agung Kendal. Saat ini Pohon Kendal yang ada di Kabupaten Kendal hanya ada satu pohon terletak di dekat Makam Kyai Gembang.

About Images